Jumat, 05 Agustus 2011
Rabu, 27 Juli 2011
Gejala dan Efek Stres Kerja
Saat kita mengalami suatu tekanan, maka stres kerja akan nampak melanda seseorang sehingga akan mengakibatkan timbulnya dampak-dampak negatif yang sangat bergantung pada tiap masing-masing individu dalam memandang stres kerja dan usaha dalam mengatasinya. Apabila tidak dapat mengatasinya, maka akan menimbulkan dampak yang berpengaruh terhadap kondisi fisiologis individu maupun prilaku.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Holmes dan Rahe atas 80 resisten di negara Seatle USA selam dua tahun, disimpulkan sebagai berikut:
- 86 % orang mendapa skor di atas 300 dalam satu periode 1 tahun, mendapat sakit berat.
- 48 % orang mendapat skor antara 150-300 menjadi sakit.
- 33 % dari mereka mendapat skor kurang dari 150, mengalami perubahan dalam kesehatan mereka (Latting, 2002 : 2).
Cooper dan Strow (dalam Umar 2001: 2). Stres kerja dapat menimbulkan gejala lingkungan, gejala ditempat kerja dan tingkah laku.
Mengenai dampak yang terjadi sebagai akibat stres kerja pada seseorang, Siagian (1995: 300) mengatakan bahwa stres kerja yang menampakan dirinya dalam berbagai bentuk seperti tekanan darah tinggi, mudah tersinggung, sukar mengambil keputusan yang sederhana sekalipun, kehilangan nafsu makan, cenderung mengalami kecelakaan kerja dan berbagai bentuk lainnya.
Untuk mengurangi dampak yang terjadi sebagai akibat dari stress relaksasi merupakan aspek penting dalam manajemen stres, karena itu, para ahli meyakinkan bahwa teori-teori relaksasi sangat bermanfaat bila dapat dipraktekan dalam kehidupan mereka yang stres kerja. Sedangkan para pengembang teori relaksasi mengatakan bahwa relaksasi adalah sebuah cara
efektif untuk mengembalikan dan memperoleh ketenangan kondisi lingkungan yang santai.
Ada empat pendekatan terhadap stres kerja, yaitu dukungan social (social support), meditasi (meditation), biofeedback, dan program kesehatan pribadi (personal wellness programs). Pendekatan tersebut sesuai dengan pendapat Keith Davis & John W. Newstrom, (dalam Mangkunegara, 2002: 157-158)
Tabel berikut ini menyajikan dua pendekatan dalam mengelola stres kerja.
Pendapat lain mengungkapkan, bahwa ada tiga komponen yang digunakan dalam mengendalikan atau mengelola stres kerja, yaitu: (Suroto, 2001: 148- 151).
- Logika, Logika yang digunakan disebut logika timbangan, kalau sebelah kiri (keinginan) lebih berat dari yang kanan (realitas, maka ada tiga pilihan yang mungkin dilakukan.
a) Realitasnya ditambah atau dibuat sesuai dengan keinginannya.
b) Keinginan yang diubah atau dikurangi, agar seimbang dengan realitasnya.
c) Kompromi, realitas diupayakan semaksimum mungkin dan keinginannya disesuaikan dengan realitas yang bisa diupayakan.
- Sikap-sikap yang mendasar semua tingkah laku agar bisa mengendalikan (menghindari, mencegah, mengatasi stres kerja).
a) Sikap utama: iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, sikap cinta kasih, realitas, objektif, positif, dan konstruktif.
b) Sikap penting antara lain: optimistis, pemurah, bersahaja, sabar, serius serta santai.
- Teknik pengendalian stres kerja
a) Rasa panik dihilangkan dengan jalan memperkirakan atau mengantisipasi akibat buruk dalam mengambil sikap
b) Rasa iri dibalik dengan kompensasi menjadi aspirasi positif
c) Rasa benci dihilangkan dengan mencari kebaikan objek atau kelebihan dan unsur positif dari objek
d) Kalau kita yang dibenci, jangan kita bereaksi, anggaplah tidak ada apaapa meskipun waspada
e) Amarah dicegah dengan mencari, memahami dan menerima baik penyebabnya.
f) Kesedihan diatasi dengan tiga langkah.
1) Bersikap reality, menerima kasusnya sebagai realitas yang tidak bias Dihindari
2) Melupakan kesedihan dengan mengisi seluruh waktu dengan mencari kesibukan.
3) Rasa takut dihadapi dengan cara: menyakinkan diri, mengakui kekurangan atau kelemahan yang terdapat dalam diri kita, rasa kecewa kita atasi dengan keikhlasan dan kesabaran.
Gejala stres kerja dapat menimbulkan dampak negatif yang berpengaruh terhadap kondisi fisiologis apabila tidak dapat mengatasinya. Oleh karena itu dibutuhkan pengelolahan untuk pengendalian stres kerja diantaranya relaksasi karena relaksasi merupakan cara efektif untuk mengembalikan dan memperoleh kondisi yang tenang dan sikap yang utama dalam pengendalian stres yaitu dengan iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Refrensi:
Siagian Sondak. (1995), Manajemen Sumber Daya Manusia, Jakarta: Bumi Aksara.
Mangkunegara, Anwar Prabu. (2002), Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan, Bandung: PT.Rosda Karya
Munandar, Ashar S. (2001). Psikologi Industri Dan Organisasi. Jakarta : UI Press.
Robbins, Stephen P. (1999), Prilaku Organisasi, Edisi 2, Jakarta: Prehallindo.
Reaksi-reaksi Stres
Stres yang terlalu besar dapat mengancam kemampuan seseorang untuk menghadapi lingkungan. Sebagai hasilnya, pada diri karyawan yang berkembang berbagai macam gejala-gejala stres yang dapat menggangu pelaksanaan kerja mereka. Gejala-gejala ini menyangkut kesehatan lingkungan maupun kesehatan mental. Orang yang mengalami stres bias menjadi gelisah dan merasakan kekhawatiran, mereka menjadi mudah marah, tidak dapat rileks, atau menunjukan sikap yang tidak kooperatif. Lebih lanjut, mereka melarikan diri dengan alkohol (minuman keras) atau merokok secara berlebihan. Disamping itu, mereka bahkan bisa terkena berbagai penyakit lingkungan, seperti masalah pencernakan, tekanan darah tinggi serta sulit tidur. (Handoko 1992: 200)
Menurut Robbins (1996: 228), pada umumnya ada tiga kategori gejala yang ditimbulkan oleh stres.
- Gejala Fisiologis
Stres dapat menciptakan perubahan dalam metabolisme, meningkatkan laju detak jantung dan pernafasan, meningkatkan tekanan darah, menimbulkan sakit kepala, dan menyebabkan serangan jantung.
- Stres Individu
Stres dapat menyebabkan ketidakpuasan, tetapi stres juga muncul dalam keadaan individu lain, misalnya: ketegangan, kecemasan, mudah marah, kebosanan dan suka menunda-nunda.
- Gejala Perilaku
Gejala stres yang dikaitkan dengan prilaku mencakup perubahan dalam produktivitas, absensi dan tingkat keluarnya karyawan, juga perubahan dalam kebiasaan makan, meningkatnya merokok dan konsumsi alkohol, bicara cepat, gelisah dan gangguan tidur.
Uraian diatas menggambarkan bahwa banyak sekali reaksi-reaksi yang ditimbulakan oleh stres diantaranya kondisi fisik yang tidak stabil dikarenakan banyaknya rangsangan baik itu dari dalam maupun dari luar individu karyawan, lalu tidak bisa mengelola dengan baik sehingga individu karyawan mudah agresif dan tidak bisa rileks.
Sedangkan menurut Agus M Hardjana (1994: 23-26) indikatorindikator stres sebagai berikut:
1) Gejala fisikal berupa
a) Sakit kepala, pusing, pening
b) Tidur tidak teratur: insomnia (susah tidur), tidur terlantur, bangun terlalu awal
c) Sakit punggung terutama dibagian bawah
d) Mencret- mencret dan radang usus besar
e) Sulit buang air besar, sembelit
f) Gatal- gatal pada kulit
g) Urat tegang- tegang terutama pada leher dan bahu
h) Terganggu pencernaanya atau bisulan
i) Tekanan darah tinggi atau serangan jantung
j) Keluar keringat banyak
k) Selera makan berubah
l) Lelah atau kehilangan daya energi
m) Bertambah banyak melakukan kekeliruan atau kesalahan dalam kerjadan hidup.
2) Gejala emosional
a) Gelisah atau cemas
b) Sedih, depresi, mudah menangis
c) Merana jiwa dan hati atau mood berubah- ubah cepat
d) Mudah panas dan marah
e) Gugup
f) Rasa harga diri menurun atau merasa tidak aman
g) Terlalu peka dan mudah tersinggung
h) Marah- marah
i) Gampang menyerang orang dan bermusuhan
j) Emosi mengering atau kehabisan sumber daya mental (burn out)
3) Gejala intelektual
a) Susah berkonsentrasi atau memusatkan pikiran
b) Sulit membuat keputusan
c) Mudah terlupa
d) Pikiran kacau
e) Daya ingat menurun
f) Melamun secara berlebihan
g) Pikiran dipenuhi oleh satu pikiran saja
h) Kehilangan rasa humor yang sehat
i) Produktivitas atau prestasi kerja menurun
j) Mutu kerja rendah
k) Dalam kerja bertambah jumlah kekeliruan
4) Gejala interpersonal
a) Kehilangan kepercayaan kepada orang lain
b) Mudah mempersalahkan orang lain
c) Mudah membatalkan janji atau tidak memenuhinya
d) Suka mencari- cari kesalahan orang lain atau menyerang orang dengan kata- kata
e) Mengambil sikap terlalu membentengi dan mempertahankan diri
f) Mendiamkan orang lain.
Refrensi:
Agus M Harjana. (1994). Stres tanpa Distres Seni Mengolah Stres. Yogyakarta: Kanisius
Handoko, Hani. (2002), Manajemen Personalia dan Sumber Daya Manusia,Yogyakarta BPFE
Langganan:
Postingan (Atom)

